Rabu, 26 Januari 2011

Laporan pandangan mata pelaksanaan Ujian Try Out di SMKN 1 Trenggalek

Pelaksanaan Ujian Try Out ke I di SMKN 1 Trenggalek berjalan lancar. Ujian dilaksanakan pada tanggal 26 dan 27 Januari 2011 diikuti oleh 402 peserta yang terdiri dari 4 Kompetensi Keahlian. Ibu Suharyati selaku waka kurikulum menjelaskan bahwa Ujian Try Out akan dilaksanakan 3 kali guna menghadapi Ujian Nasional tahun 2011 ini.


Pak Ketua sedang serius dibantu bu danik

Ada hal baru didalam pelaksanaan Try out tahun ini dan hal ini juga terkait juga dengan Ujian Nasional tahun ini yaitu jumlah paket soal menjadi 5 buah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri tentunya bagi guru-guru dan siswa-siswa itu sendiri.


spesialis tukang ketik


mrs remix

Read More...

Minggu, 16 Januari 2011

Dilema program sertifikasi guru

Ada saja hal-hal menarik yang dapat dibahas didalam ranah pendidikan, dari mulai penyusunan perangkat pembelajaran oleh guru, persebaran guru yang tidak merata, perbandingan gaji guru PNS dan non PNS dan yang paling sering dibicarakan pelaku-pelaku pendidikan adalah program sertifikasi guru.

Program sertifikasi guru ini sebenarnya pernah dilakukan pemerintah. Dulu sekitar tahun 1995/1996 oleh Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Hanya saja dulu namanya Program serifikasi guru SLTP kecil dan SLTP terbuka. Di pusat, program ini di bawah proyek peningkatan mutu dan pelaksanaan wajib belajar SLTP pada Direktorat Dikmenum. Pada provinsi berada di bawah bagian proyek peningkatan mutu dan pelaksanaan wajib belajar SLTP pada bidang Dikmenum, Kanwil Depdikbud.
Kalau sekarang program sertifikasi lebih dilebarkan lagi jangkauannya, tidak hanya untuk guru SLTP kecil dan SLTP terbuka saja. Jika sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan boleh diusulkan kepala sekolah untuk menjadi peserta program sertifikasi ini. Dan lagi-lagi tujuan yang diharapkan setelah berjalannya program sertifikasi ini adalah selain meningkatkan kesejahteraan para guru, juga meningkatkan mutu pendidikan.

Di beberapa kesempatan, penulis membaca tanggapan orang-orang yang punya kompetensi dalam peningkatan mutu pendidikan, justru menyuarakan kalau mutu pendidikan tahun 2010 menurun. Mutu pendidikan dalam hal ini adalah menyangkut profesionalitas guru dan tamatan yang dihasilkan dari tahun ke tahun.

Mengapa guru yang harus selalu paling dipersalahkan dalam meningkatkan mutu pendidikan disebuah daerah tingkat? Seakan pendidikan hanya milik guru saja, padahal kesalahan yang disebabakan stakeholder bidang pendidikan juga sangat mempengaruhi keberhasilan sebuah tujuan pendidikan. Misalnya untuk perekrutan calon pegawai negeri sipil formasi guru saja, ada calo-calo yang berani menjamin kelulusan. Alhasil tidak sedikit guru yang berkompeten malah tersingkir dan diganti oleh guru-guru dengan mental penyuap. Walau tidak dapat dipungkiri kalau peran guru sangat besar dalam peningkatan mutu pendidikan.
Efektifkah sertifikasi guru
Mendapat tunjangan sebesar gaji pokok bagi PNS dan bagi guru-guru non PNS mendapat tunjangan rata-rata Rp1,5 juta tiap bulan adalah salah satu tujuan sertifikasi. Sehingga akan menambah penghasilan bagi guru yang diharapkan nantinya dengan tunjangan itu akan meningkatkan kesejahteraan dan tentunya semakin bergiat meningkatkan mutu pendidikan. Walau kadang sesekali ada juga guru yang bergumam, kenapa untuk menaikan tunjangan untuk guru harus yang inilah yang itulah. Sementara untuk instansi lain tinggal dinaikan bahkan lebih dari tunjangan sertifikasi guru, orang pajak saja misalnya gaji mereka bisa 3 x lipat gaji guru.

Tapi masih banyak kok yang optimis dengan program ini. Akan tetapi kenapa mutu pendidikan dikatakan semakin menurun? Padahal jelas diharapkan setelah program sertifikasi berjalan dapat meningkatkan profesionalitas dan kinerja guru yang pastinya akan meningkatkan mutu pendidikan dan ini merupakan dua kenyataan yang bertolak belakang. Terus dimana letak permasalahannya?

Menurut penulis masalah di sini terletak dalam sistim, dari sistim perekrutan, sistim penilaian, system monitoring dan sistim pengevaluasian. Coba kalau perekrutan dimulai dari pendataan guru yang sudah layak dan sesuai dengan kiteria yang ditetapkan, kemudian mereka yang lolos seleksi diuji lagi dengan ujian teori dengan materi 4 kompetensi guru (paedagogik, sosial, kepribadian dan profesionalisme). Pemerintah membuat batasan nilai kelulusan dan program ini dapat diserahkan ke LPTK yang bekerjasama dengan LPMP yang ada di masing-masing daerah.
Atau bagaimana kalau yang disertifikasi itu adalah lembaganya dalam hal ini adalah universitas yang spesifikasinya adalah di kependidikan, bukankah mereka yang paling bertanggjawab dalam menciptakan calon-calon guru. Tapi kenyataan sekarang tidak dia yang mengeluarkan dia juga yang menilai profesional atau tidak.

Sebenarnya program pemerintah yang satu ini sudah sangat bagus kalau dilaksanakan dengan baik. Sehingga nantinya akan tercipta guru-guru yang profesional, bertanggungjawab pada pekerjaan sehingga mutu pendidikan akan meningkat dan tercipta pendidikan yang lebih bermartabat.
Read More...

Sabtu, 15 Januari 2011

Perang Bubat (Seri Sendyakalaning Majapahit)

Perang Bubat adalah perang yang terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada yang saat itu sedang melaksanakan Sumpah Palapa. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada tahun 1357 M.

Pernikahan Hayam Wuruk

Peristiwa ini diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan raja Hayam Wuruk terhadap putri Citraresmi karena beredarnya lukisan putri Citraresmi di Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, Sungging Prabangkara.

Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Di mana Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit adalah keturunan Sunda
dari Dyah Lembu Tal yang bersuamikan Rakeyan Jayadarma menantu Mahesa Campaka. Rakeyan Jayadarma sendiri adalah kakak dari Rakeyan Ragasuci yang menjadi raja di Kawali. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Di mana dalam Babad Tanah Jawi sendiri, Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pajajaran.

Dengan demikian Prabu Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan,Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar putri Citraresmi. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Sebenarnya dari pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri keberatan, terutama dari Mangkubuminya sendiri, Hyang Bunisora Suradipati karena tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Suatu hal yang dianggap tidak biasa menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat
itu. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik karena saat itu Majapahit sedang melebarkan kekuasaan (diantaranya dengan menguasai Kerajaan Dompu di Nusatenggara).

Namun Maharaja Linggabuana memutuskan tetap berangkat ke Majapahit karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Maharaja Hayam Wuruk sebenarnya tahu akan hal ini terlebih lebih setelah mendengar dari Ibunya sendiri Tribhuwana Tunggadewi akan silsilah itu. Berangkatlah Maharaja Linggabuana bersama rombongan ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat

Kesalahpahaman Gajah Mada

Mahapatih Gajah Mada (dalam tata negara sekarang disejajarkan dengan Perdana Menteri) menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat merupakan suatu tanda bahwa Negeri Sunda harus berada di bawah panji Majapahit sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah dia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta.

Gajah Mada mendapatkan jabatan Mahapatih atas karirnya militernya di Majapahit, beliau mengawali karirnya sebagai prajurit pada kesatuan pengawal kerajaan Bhayangkara yang merupakan pasukan elit Majapahit. Beliau mendesak Raja Hayam Wuruk untuk menerima Putri Citraresmi bukan sebagai pengantin tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Maharaja Hayam Wuruk sendiri bimbang atas permasalah itu karena Gajah Mada adalah Mahapatih (Perdana Menteri) yang diandalkan Majapahit saat itu.

Gugurnya Rombongan Pengantin

Kemudian terjadi Insiden perselisihan antara utusan dari Maharaja Linggabuana dengan Mahapatih Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Mahapatih Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit bukan karena
undangan sebelumnya. Namun Mahapatih Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Maharaja Hayam Wuruk memberikan putusannya, Mahapatih Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke pesanggrahan Bubat dan mengancam Maharaja Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Maharaja Linggabuana menolak tekanan itu, dan terjadilah
peperangan yang tidak seimbang yang melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan pasukan yang besar dengan Maharaja Linggabuana dengan pasukan Balamati pengawal kerajaan yang berjumlah sedikit, bersama pejabat kerajaan dan para menteri yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Maharaja Linggabuana, para
menteri dan pejabat kerajaan serta Putri Citraresmi.

Maharaja Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali-yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan perikahan antara maharaja Hayam Wuruk dengan putri Citraresmi-untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi Pejabat Sementara Raja Negeri Sunda serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

Namun akibat peristiwa Bubat ini (mungkin dalam dunia politik sekarang dikatakan Skandal Bubat), dikatakan dalam suatu catatan bahwa Hubungan Maharaja Hayam Wuruk dengan Mahapatihnya menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat mahapatih sampai wafatnya (1364). Sementara akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda. Sebagian lagi mengatakan yang dimaksud adalah larangan menikah dengan pihak timur negeri Sunda
(Majapahit).

Catatan menurut versi sunda :

sekedar catatan: Kanjeng Gusti Putri ratu Dyah Phytaloka Citraresmi meninggal tidak dengan bunuh diri melainkan ikut bertempur dan berhasil melukai mahapatih Gajah mada, sehingga akibatnya pertempuran bertambah sengit, sebab Gajah Mada Berduel dengan sang Putri Dyah Phytaloka, meskipun akhirnya gugur, Sang Putri berhasil melukai Tubuh gajah mada dengan Keris Singa barong berlekuk 13 Keris leluhur Pasundan peninggalan pendiri kerajaan tarumanegara, yang bernama, Prabu Jayasinga Warman. akibat luka itu, Gajah Mada menderita sakit yang tidak Bisa disembuhkan, dan akhirnya meninggal.
Read More...

Sabtu, 08 Januari 2011

MATERI KBM DASAR KOMPETENSI KEJURUAN TITL Tanggal : 4/01/11

Mat Pel: DKK TITL
Kelas: X
TP / Semester: 2010/2011 / Genap
SK : Memahami gambar teknik listrik
KD : Memahami gambar instalasi ketenagalistrikan industri
Materi : Menggambar Diagram Pengawatan dan Simbol-simbol komponen instalasi listrik



1. Tujuan pertemuan :
Siswa memahami dan dapat menggambar aturan penggambaran diagram pengawatan instalasi listrik dan Simbol-simbol komponen instalasi listrik

2. Point-point penting :
• Diagram pengawatan sangat penting didalam perencanaan suatu instalasi listrik
• Diagram pengawatan menggambarkan hubungan diantara komponen-komponen fisik instalasi listrik
• Macam-macam diagram pengawatan dan cara penggambarannya :
a.Diagram pengawatan tunggal (single line diagram)
b.Diagram pengawatan banyak (multi line diagram)
• Pada saat pelaksanaan juga diperlukan layout/ tata letak komponen didalam ruang instalasi
• Gambar diagram pengawatan boleh digambar langsung pada layout/ tata letak komponen
• Simbol kawat ( add : boleh ditambahkan pengertian fasa, netral, arde, dan aturan PUIL tentang warna kabel) :
a.Kawat Fasa



b.Kawat Netral



c.Kawat Arde




•Contoh diagram pengawatan banyak :






• Contoh diagram pengawatan tunggal :








• Simbol-simbol utama komponen Instalasi Listrik ( boleh diterangkan beberapa prinsip kerja dari komponen instalasi seperti saklar tunggal, saklar seri, maupun saklar tukar )
1.Saklar tunggal







2.Saklar Seri









3.Saklar Tukar








4.Stop Kontak / kotak kontak






5.Titik Lampu








6.Sekring







•Job 1 ( perencanaan diagram dikerjakan di buku tulis siswa saja ) ( waktu 15 menit )
Hubungkan sesuai layout 3 komponen instalasi dibawah ini, dimana sebuah lampu dilayani sebuah saklar tunggal dengan menggunakan diaga\ram kawat tunggal maupun kawat banyak !











•Job 2 ( perencanaan di buku gambar A3 ) (waktu 2 jam)
Rencanakan diagaram instalasi kawat tunggal maupun banyak dimanalayout komponennya secara berurutan terdiri dari :
- Sumber dimulai dari sekring
- Sebuah saklar tunggal (S1) melayani 2 buah lampu ( L1 & L2)
- Sebuah saklar seri (S2) melayani 2 buah lampu (L3 & L4)
- Diujung diagram juga dipasang sebuah stop kontak dengan arde


3.Penutup
Ambil Kesimpulan akhir dan Tugas mencari dari berbagai sumber, simbol-simbol komponen instalasi listrik selain yang sudah disebut diatas !
Read More...